Menyusuri “Generasi Kue Lapis” dalam Kerumitan Keuangan

26 February 2024 12:15 WIB
Polish_20240226_120112146

**Redaksi Anomali.id ** Perjalanan hidup memang terletak dalam kemampuan kita untuk menertawakan ketidaksempurnaan hidup kita sendiri, dan inilah yang membuat cerita tentang kelas menengah muda dan perjuangannya dalam menjalani hidup begitu lucu & menantang.

Mari kita mulai dari teka-teki “work-life balance”. Bagi kita, kelas menengah muda, itu bukanlah sebuah keseimbangan, melainkan sebuah teka-teki yang rumit antara kerja keras dan ‘self-reward’ yang seringkali berujung pada kerja terus-menerus demi menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sebagai anggota “generasi kue lapis”, kita terbiasa dengan permainan uang yang tak pernah habis. Gaji masuk, tapi sebelum kita bisa menghirup udara segar, sudah terbang lagi untuk membayar tagihan. Makan tabungan? Itu sebenarnya makanan sehari-hari kita!

Pemerintah mungkin sudah kaya, tapi belum pada giliran kita. Terlebih lagi, sebagai kelas menengah muda, kita harus punya banyak pekerjaan sampingan. Gaji utama kadang-kadang nggak cukup, jadi kita harus jadi ahli jongkok di atas tumpukan pekerjaan lain.

Berdasarkan analisis data, kita ini mayoritas, loh! Tapi ternyata, meski kita jadi mayoritas, rata-rata sisa gaji kita malah minus. Siapa yang bisa ngerjain matematika sekarang?

Nah, ada satu hal yang bisa bikin kita bersyukur, yaitu fakta bahwa kita bukanlah sendirian. Data menunjukkan bahwa sebagian besar kelas menengah mengalami hal yang sama. Jadi, kalau kita merasa boncos di akhir bulan, kita bisa bilang “sini-sini merapat!” kepada teman senasib.

Tapi tunggu dulu, ada yang lebih lucu lagi. Meskipun kita mungkin ngerasa uang kita nggak pernah cukup, tapi data menunjukkan bahwa pengeluaran kita lebih dari dua kali lipat dari pendapatan kita. Itu artinya, kita pakai trik sihir buat bikin uang menghilang!

Jadi, kalau ada yang nanya “Kamu masuk kelas mana?”, jawab aja dengan percaya diri, “Tentu saja, aku kelas menengah! Generasi kue lapis, generasi makan tabungan, dan generasi kreatif dalam mengelola minus!”

Tapi, ingat ya, meski lucu, tapi ini juga nyata. Kita harus mulai belajar mengelola keuangan dengan lebih cerdas. Siapa tahu, suatu hari nanti kita bisa berhenti menjadi “generasi kue lapis” dan menjadi “generasi kue kaya”!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4232508926941629218

Latest News

12848135643216883582
5003596313931723273